Peristiwa Di Bulan Rajab (Penaklukan Al-Quds)
Pembebasan Kota Al-Quds
Peristiwa terjadi dibulan Rajab yakni pembebasan Al-Quds oleh Shalahudin
Al-Ayyubi dari tangan kaum salibis. Pembebasan Al-Quds ini terjadi pada bulan
Rajab 583 H/1187 M.
Al-Quds
merupakan sebuah kota yang di dalamnya terdapat kompleks Al-Aqsha, yang memuat
beberapa situs sejarah tiga agama yakni Islam, Yahudi maupun Nasrani. Nama lain
dari A-Quds adalah Baitul Maqdis dan Yerussalem. Peranan Al-Quds bagi umat
Islam sangatlah penting, mengingat di Al-Quds terdapat kiblat pertama Umat
Islam sebelum pindah ke Ka’bah. Selain itu juga ada peristiwa besar lainnya
yang terjadi di Al-Quds yakni Isra Mi’raj.
Klaim umat lain
seperti Yahudi yakni mereka menganggap bahwa di Al-Quds terdapat situs
bangunan/kota yang dulu dibangun oleh Nabi Sulaiman untuk kaum Yahudi,
sedangkan bagi umat Nasrani yakni Al-Quds merupakan tempat kelahiran Nabi Isa
AS. Sebenarnya Al-Quds telah berada dibawah kekuasaan Umat Islam sejak zaman
Khalifah Umar ibn Khatthab RA setelah merebut dari kekuasaan kekaisaran Romawi.
Namun, setelah 500 tahun dibawah kekuasaan Umat Islam, Baitul Maqdis kembali
jatuh ke tangan kaum Nasrani. Semua kejadian tersebut diakibatkan digempurnya
umat Islam di Al-Quds oleh pasukan Nasrani pada massa Perang Salib yang
berkepanjangan. Pendudukan Al-Quds oleh Pasukan Salib hanya berlangsung selama
60 tahun, sebelum akhirnya direbut kembali oleh Umat Islam yang di pimpin oleh
Shalahudin Al-Ayyubi. Peristiwa direbut kembalinya Al-Quds oleh Umat Islam
terjadi pada hari Jum’at tanggal 27 Rajab 583 H/ 15 Oktober 1187 M. Direbutnya
Al-Quds oleh Shalahudin Al-Ayyubi terjadi setelah Al-Ayyubi berhasil menaklukan
raha besar di Eropa, seperti Richard The Lion Heart (Inggris), Frederick
(Jerman), Leopold (Austria), dan Louis (Perancis). Pendudukan Al-Quds oleh
Shalahudin Al-Ayyubi dilakukan dengan cara mengepung kota Al-Quds selama 40
hari, hingga penduduknya mulai kehabisan bahan makanan. Kondisi mereka
diperparah oleh banyaknya pelarian yang selamat dari gempuran lasykar Islam
pada Perang Hittin.
Setelah melakukan
pengepungan selama 40 hari, Shalahudin Al-Ayyubi lalu menyerukan agar kota suci
itu diserahkan secara damai tanpa adanya pertumpahan darah. Ia melakukan hal
tersebut karena tidak ingin bertindak seperti yang dilakukan oleh Pasukan
Salibis dibawah pimpinan Godfrey yang pada tahun 1099 menaklukan Al-Quds dengan
menjarah dan membantai umat Islam di Yerussalem dengan keji. Godfrey dengan
semena-mena mengusir dan membunuh kaum muslimin yang semula hidup damai
berdampingan dengan umat lain.
Namun usaha
A-Ayyubi yang berusaha menaklukan Al-Quds dengan cara damai tidak serta merta
mendapat respon yang baik dari penduduk Yerusallem, bahkan mereka mengangkat
komandan tempur untuk mempertahankan kota itu. Mereka berpikir, Al-Ayyubi dan
pasukannya akan menumpahkan darah mereka dengan cara berpura-pura merayu untuk
berdamai.
Ajakan damai
yang dibalas dengan penolakan dan tantangan tersebut membuat pasukan muslim
mulai melancarkan serangan dengan anak panah dan manjanik (batu lontar).
Setelah terjadi peperangan selama 14 hari, akhirnya pasukan nasrani menyerahkan
diri. Namun awalnya Al-Ayyubi menolah penyerahan diri pasukan nasrani tersebut
karena mereka pada awalnya tidak mau diajak berdamai. Dalam kondisi tersebut
akhirnya Wali Yerussalem menemui Al-Ayyubi memohon untuk dikasihani, dan
mengancam jika pasukan Al-Ayyubi tidak mengampuni mereka maka mereka akan
membunuh semua tahanan muslim yang ada pada mereka, membunuh para anak dan
perempuan mereka serta menghancurkan semua rumah dan bangunan yang ada termasuk
Kubah Ash-Shakhra, sehingga dengan kerusakan tersebut maka tidak ada lagi yang
dapat dimanfaatkan. Mendengan ancaman tersebut, hati Al-Ayyubi pun luluh, tapi
ia tidak bisa begitu saja menerima pernyataan penyerahan diri tersebut, karena
merasa terikat dengan sumpahnya. Maka, ia pun meminta nasihat para Ulama. Menanggapi
hal tersebut, mereka mengatakan bahwa sumpah tersebut dapat ditebus dengan
membayar kafarat.
Setelah Al-Ayyubi menerima penyerahan diri pasukan nasrani maka penyerahan Kota Al-Quds dari pasukan nasrani ke pasukan muslim berlangsung dengan damai dan bagi pasukan nasrani yang telah membayar jizyah diperbolehkan untuk pergi ke mana pun yang mereka anggap aman. Mereka diberi waktu selama 40 hari.
Setelah Al-Ayyubi menerima penyerahan diri pasukan nasrani maka penyerahan Kota Al-Quds dari pasukan nasrani ke pasukan muslim berlangsung dengan damai dan bagi pasukan nasrani yang telah membayar jizyah diperbolehkan untuk pergi ke mana pun yang mereka anggap aman. Mereka diberi waktu selama 40 hari.
Maka bertepatan
dengan hari Jum’at tanggal 27 Rajab 583 H/15 Oktober 1187 M, Shalahudin
Al-Ayyubi beserta pasukannya memasuki Baitul Maqdis dengan gemuruh seruan
takbir. Hari itu sangat istimewa, karena bertepatan dengan kunjungan Rasulullah
ke Kota Baitul Maqdis di malam Isra-nya. Namun sayangnya hari itu kaum muslimin
tidak bisa langsung melaksanakan shalat Jum’at di Masjidil Aqsha, karena
seharian itu mereka harus membersihkan masjid tersuci ketiga dari kotoran babi,
kayu salim, gambar rahib, dan patung-patung yang sebelumnya dipertuhankan.
Baru pada Jum’at
berikutnya umat Islam mendirikan shalat Jum’at di Masjidil Aqsha lagi setelah
92 tahun. Qadhi Muhiyiddin bin Muhammad bin Ali bin Zaki bertindak selaku
khatib dan imam shalat Jum’at perdana itu. Ada beberapa pandangan sejarah
kenapa Masjid tersebut dinamai “Al-Aqsha”. Ada yang berpendapat, karena masjid
ini terletak jauh (aqsha) dari Masjidil Haram. Ada yang berpandangan, karena
wilayah itu bersih dan suci (aqsha) dari segala kotoran dan najis, tempat
turunnya wahyu dan para malaikat, dan kiblat bagi para nabi sebelum Nabi
Muhammad SAW. Ada juga yang berpendapat, karena masjid ini bayangan dari
Masjidil Al-Aqsha yang ada di Sidratul Muntaha.
Masjidil Aqsha terdapat dalam suatu kompleks di Al-Quds, yang didalamnya juga terdapat situs Qubbah As-Sakhrah (batu hitam yang menjadi landasan Nabi SAW saat Mi’raj), yang berada di masjid Umar bin Khattab RA. Umar mendirikan masjid di kompleks bersejarah ini untuk mengenang peristiwa Isra dan Mi’raj Nabi SAW di kota itu.Sementara disudut lainnya di kota itu, umat nasrani dan yahudi diperbolehkan untuk beribadah menurut ajarannya. Inilah yang terekam indah ketika Islam berkuasa, dengan menunjukan rahmatan lil’alamin dalam pemerintahannya. Sayangnya keindahan ini tidak disambut baik oleh para pemukan nasrani dan pemimpin politik di belahan benua eropa. Jatuhnya Yerussalem ke tangan kaum muslimin telah membuat eropa marah. Mereka menggalang dana melalui gerakan “saladin tithe”, yaitu sumbangan wajib membiayai perang salib berikutnya. Perang salib pun kembali membara untuk kesekian kalinya, hingga tenggelamnya Khilafah Utsmaniyah dalam Perang Dunai I pada tahun 1917, sehingga kota suci ini lepas dari tangan kaum muslimin. Kini, Al-Quds dan Palestina berada dalam cengkeraman kaum penjajah Zionis Israel. Resolusi PBB pada November 1947 menjadi biang kehancuran Al-Quds dan Palestina yang terus berlangsung hingga hari ini.
Masjidil Aqsha terdapat dalam suatu kompleks di Al-Quds, yang didalamnya juga terdapat situs Qubbah As-Sakhrah (batu hitam yang menjadi landasan Nabi SAW saat Mi’raj), yang berada di masjid Umar bin Khattab RA. Umar mendirikan masjid di kompleks bersejarah ini untuk mengenang peristiwa Isra dan Mi’raj Nabi SAW di kota itu.Sementara disudut lainnya di kota itu, umat nasrani dan yahudi diperbolehkan untuk beribadah menurut ajarannya. Inilah yang terekam indah ketika Islam berkuasa, dengan menunjukan rahmatan lil’alamin dalam pemerintahannya. Sayangnya keindahan ini tidak disambut baik oleh para pemukan nasrani dan pemimpin politik di belahan benua eropa. Jatuhnya Yerussalem ke tangan kaum muslimin telah membuat eropa marah. Mereka menggalang dana melalui gerakan “saladin tithe”, yaitu sumbangan wajib membiayai perang salib berikutnya. Perang salib pun kembali membara untuk kesekian kalinya, hingga tenggelamnya Khilafah Utsmaniyah dalam Perang Dunai I pada tahun 1917, sehingga kota suci ini lepas dari tangan kaum muslimin. Kini, Al-Quds dan Palestina berada dalam cengkeraman kaum penjajah Zionis Israel. Resolusi PBB pada November 1947 menjadi biang kehancuran Al-Quds dan Palestina yang terus berlangsung hingga hari ini.
Maka, apa yang
terbetik di hati kita tentang usaha-usaha Nabi SAW dalam perjalanan Isra dan
Mi’raj-nya batu pijaknya untuk menembus Sidratul Muntaha terletak di Al-Aqsha?
Apa yang harus kita lakukan untuk membantu dan mendukung perjuangan
menyelamatkan Al-Quds dan Palestina dari Penjajahan, sebagaimana yang pernah
dilakukan Amirul Mu’minin Umat bin Khattab RA dan Shalahudin Al-Ayyubi dan
Prajurit muslimin mereka? Apakah KITA tidak mau peduli? Rasulullah SAW
bersabda, “Siapa yang tidak peduli dengan urusan kaum muslimin bukanlah
golongan kami”.
Al Quds saat ini
Dari 11,4 juta warga Palestina di
seluruh dunia saat ini, sekitar 66% di antaranya adalah rakyat yang dipaksa
mengungsi. Meski sudah berselang 65 tahun dari insiden pengusiran besar-besaran
rakyat Palestina oleh rezim Zionis pada Mei 1948 (Nakbah), hingga saat ini
pengusiran masih terus terjadi. Seperti
dilaporkan IMEMC
(International Middle East Media Center), pada 6 Mei 2013, rezim zionis
menyetujui sebuah rencana baru yang akan membuat 70.000 rakyat Palestina
Bedouin di Naqab mengungsi. Pada
hari yang sama, zionis mengeluarkan perintah penghancuran sebelas rumah di desa
Deir Nidham dekat Ramallah yang membuat 40 orang Palestina kini tidak berumah.
Di tempat-tempat pengungsian, rakyat Palestina tidak mendapatkan hak
perlindungan yang memadai. Majelis
Umum PBB mengesahkan Resolusi 194 pada 1948. Resolusi ini menyebutkan bahwa
pengungsi Palestina akan mendapatkan perlindungan khusus dan menyerukan
pengembalian para pengungsi ke Tanah Air mereka. Di dalamnya juga disebutkan
soal pemberian kompensasi kepada para pengungsi.
Lalu pada 1967, Dewan Keamanaan PBB
mengeluarkan resolusi 237 yang isinya menuntut rezim zionis mengizinkan
kembalinya para pengungsi Palestina yang diusir dari Tepi Barat, Jalur Gaza,
Dataran Tinggi Golan dan Semenanjung Sinai. Namun, masyarakat internasional
tidak menggunakan resolusi-resolusi ini untuk memaksa ‘israel’ mematuhi hukum
dan standar internasional. Kini,
dengan memanasnya konflik di Suriah, para pengungsi Palestina yang tinggal di
sana terpaksa harus kembali mengungsi. Sekitar 400.000 dari 500.000 pengungsi
Palestina di Suriah membutuhkan bantuan segera. Warga Palestina yang mengungsi
dari Irak dan sekarang tinggal di Suriah saat ini belum mendapatkan kejelasan
status sehingga tidak mendapatkan hak perlindungan.
Para pengungsi Palestina yang sudah
meninggalkan Suriah dan pergi Yordania ditahan di perbatasan dan ditolak masuk.
Mereka menghadapi ancaman deportasi. Kementerian Dalam Negeri Yordania telah
menyatakan dengan jelas bahwa Yordania tidak akan berurusan dengan warga Palestina
yang datang dari Suriah sebagai pengungsi. “Mereka hanya akan diperlakukan
sebagai tamu.” Warga Palestina
dibolehkan masuk ke Lebanon dan tinggal di kamp-kamp pengungsi yang sudah
sesak. Otoritas Lebanon memberlakukan aturan diskriminatif antara para pengungsi
Palestina dan Suriah. Kondisi ini memperburuk kesulitan yang dialami para
pengungsi Palestina.
Di Mesir, tidak ada pengungsi Palestina
yang mendapatkan izin tinggal. Birokrasi menolak semua hak-hak pengungsi mereka.
Baru baru
ini, Sebuah
laporan resmi Palestina menyebutkan, pasukan pendudukan zionis menangkap 28 orang
anak dari sejumlah kota dan desa di Tepi Barat yang diduduki sejak awal Mei
ini.Kantor berita PIC (Palestinian Information Center)
melaporkan, bahwa pasukan pendudukan terus menyerang anak-anak Palestina.
Selain menculik 28 orang anak selama setengah bulan ini, mereka juga melukai
sejumlah anak lainnya ketika melakukan serangan. Serangan pun dilakukan oleh
para pemukim ilegal Yahudi, tidak hanya serdadu zionis. Menurut
data Kementerian Tahanan, sejak Intifadah pertama di tahun 2000 sampai 7 Mei
2013, pasukan zionis menculik hampir 9.500 anak Palestina di bawah usia 18
tahun atau rata-rata 760 orang anak per tahunnya. Sampai saat ini zionis
Yahudi masih menyekap 243 anak Palestina dimana 42 orang di antara mereka masih
berusia di bawah 16 tahun.
اللّهمّ
إنّك تعلم أنّ هذه القلوب قدجتمعت على محبّتك والتقت على طاعتك وتوحّدت على دعوتك
وتعاهدت على نصرة شريعتك فوثّق اللّهمّ رابطتها

Komentar
Posting Komentar