.:: Cerdas Ala Rasulullah ::.


بسم الله الراحمن الرا حيم
”Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS Al-Mujadalah: 1)

“Siapa yang tidak menginginkan, menjauhi dan menolak hal yang baru. Berati ia telah mati sebelum kematian itu datang mengujunginya”
Sejarah adalah sebuah gagasan sebab akibat yang tersusun dari al-afkar (ide), asyokhshun (orang)  dan al-asya’, kemudian menjadi bom waktu yang meledak, dengan momen yang tepat sehingga ledakan dahsyat dan terdengar.
Dalam sejarah seorang Muhammad, semua unsur itu memang ada. Namun seandainya semua unsur itu pun tidak mendukungnya untuk menjadi orang besar, tetap ada satu hal yang menjadikannya orang besar: sisi kemanusiaannya, terlepas dirinya seorang nabi. Sisi kemanusiaanya adalah keistimewaanya, dan yang membedakannya dengan orang besar lainnya. Semua peristiwa yang melibatkannya adalah bukti nalurinya sebagai manusia  sebagai manusia sangat berperan menentukan. Ini merupakan bagian Uswah kepada kita seperti itulah seharusnya manusia berperan dalam setiap tindakannya. Seberapa besar perannya akan terlihat sejauh mana ia bisa mengatasi keunikan-keunikan dari peristiwa yang dialaminya. Karena memang keunikan itulah yang membedakannya dari peristiwa dan pelaku lainnya. Entri poinnya, kita dituntut untuk bisa berdiri dalam posisi yang benar untuk kemudian memahami esensi penciptaan dari kita.
Salah satu keunikan Rasulullah adalah pola belajar  dan pemilihan waktu belajar yang efektif, yang kemudian memiliki pengaruh terhadap perkembangan Islam dan dakwah. Rasulullah SAW mengungkapkan,bahwa ilmu itu hanya didapati dengan cara belajar. Oleh sebab itu,dalam berbagai kesempatan dan cara, Rasulullah memberikan motivasi kepada orang yang belajar,agar tetap memiliki semangat dan orientasi yang shahih terhadap segala aktivitas.Allah SWT juga menegaskan dalam (Q.S.Al-Mujadilah/58:11):
”Hai orang-orang yang beriman,apabila dikatakan kepadamu : “Berlapang-lapanglah dalam majlis”,maka lapangkanlah,niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu.Dan apabila dikatakan : “Berdirilah kamu,maka berdirilah,niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” 
Allah SWT melalui al Qur’an menegaskan bahwa manusia diperintahkan untuk membaca “iqro”, dan membaca merupakan aktivitas belajar. Menurut Quraish Shihab, didalam tafsir al Misba mengungkapkan bahwa kata “iqro” memiliki makna bukan hanya sekedar membaca, melainkan memahami, menyimpulkan dan menanyakan. Membaca bukan hanya jembatan pengetahuan akan tetapi sarana pembentukan keperibadian atau karakter. Berkata setengah hukama : "Sesungguhnya aku tidak belas kasihan kepada orang-orang, seperti belas kasihanku kepada salah seorang dari dua : orang yang menuntut ilmu dan tidak memahaminya dan orang yang memahami ilmu dan tidak menuntutnya".
Selanjutnya, Rasulullah bersabda :"Ilmu itu adalah gudang-gudang. Anak kuncinya pertanyaan. Dari itu, bertanyalah! Sesungguhnya diberi pahala pada bertanya itu empat orang, yaitu : penanya, yang berilmu, pendengar dan yang suka kepada mereka yang tiga tadi".(Dirawikan Abu Na'im dari Ali, hadits marfu')
Dalam hadits yang diriwayatkan Abu Dzar ra. Berbunyi :"Menghadiri majelis orang berilmu, lebih utama daripada mendirikan shalat seribu raka'at, mengunjungi seribu orang sakit dan berta'ziah seribu janazah"
Dari penjelasan diatas minimal kita menemukan 3 (tiga) pola belajar. Pertama, metode iqro’ bukan hanya sekedar membaca, melainkan memahami, menyimpulkan dan menanyakan. Kedua, mau bertanya. Karena orang yang bertanya adalah mereka yang sadar akan hakekat kebenaran. Dan yang Ketiga, menghadiri majelis ilmu. Artinya membudayakan diskusi dan sharing.
Belajar agar berilmu
Dalam menuntut ilmu/belajar, ada beberapa tips yang diberikan oleh Rasulullah agar peserta didik mendapatkan ilmu dan berhasil dalam pendidikannya. Dalam pembelajaran, kita diberikan pemahaman dan ditumbuhkan kesadaran bahwa belajar merupakan sarana untuk memperoleh ilmu, dengan ungkapan Rasul: ilmu itu hanya didapati dengan cara belajar. Oleh sebab itu, dalam beberapa kesempatan, dan dengan berbagai cara Rasul Saw. memberikan motivasi kepada orang yang belajar agar punya indeks kinerja yang tinggi.
Allah menjanjikan untuk meninggikan derajat orang yang beriman dan berilmu (Q.S.al- Mujadilah/ 58: 11) Allah menegaskan bahwa orang yang berilmu mempunyai tingkat ketaqwaan yang lebih tinggi (Q.S.Fathir/ 35:28). Rasulullah pun dalam beberapa hadisnya memberikan motivasi kepada peserta didik agar memiliki ilmu yang bermanfaat.

Menuntut ilmu untuk kepentingan pengembangan Ajaran Islam
Ada beberapa cara yang digunakan Rasul dalam menumbuhkan semangat menuntut ilmu dengan motivasi. Ada dua metode yang dipakai Rasul untuk ini, pertama dengan metode targhib (hadiah dari Allah), kedua, dengan metode tarhib (ancaman).
a.      Rasul memberikan jaminan berdekatan dengannya di surga
Diterima dari Hasan, Rasulullah bersabda: Siapa yang meninggal dan ia sedang mencari ilmu untuk mengembangkan ajaran Islam, maka antara dia dan Rasulullah satu tingkatan saja di surga.
Dari hadis di atas, terlihat bahwa jaminan yang diberikan Rasul telah mendorong para sahabat dalam proses pembelajaran dengan menggunakan semua potensi yang dimilikinya secara sungguh-sungguh untuk memperoleh ilmu yang bermanfaat untuk pengembangan Islam. Ada 2 aspek yang menjadi stressing dalam sabda Rasul di atas; pertama: belajar untuk mendapatkan ilmu, bukan untuk mencari nilai/IP tinggi atau gelar dan prestise. Tidak salah jika seseorang menginginkan IP/nilai tinggi, dan mendapatkan gelar, jika bukan diposisikan sebagai tujuan. Kedua: ilmu yang diperoleh diaplikasikan untuk hal yang bermanfaat, bukan mencari ilmu yang kemudian digunakan untuk merusak. Karena hakikat mencari ilmu adalah mardhotillah mencari ridho-Nya Allah.
b.      Rasul memberikan ancaman kepada orang yang salah motivasi atau salah tujuan dalam mencari ilmu, tidak akan mencium bau surga.
Dalam hadis berikut Rasul menjelaskan: Abu Hurairah menyatakan, Rasul telah bersabda: “Siapa saja yang menuntut ilmu bukan karena Allah akan tetapi untuk mendapatkan keuntungan dunia, maka nanti ia tidak akan mendapatkan bau surga. Bahkan dalam riwayat lain secara tegas dinyatakan bahwa yang menuntut ilmu bukan karena Allah atau bermaksud untuk selain Allah, ia akan masuk neraka. “
Oleh karena itu, mencari ilmu merupakan jihad melawan kebodohan, membudayakan tradisi belajar merupakan bagian kecintaan dan kesyukuran kepada zattul’izzati.
Wallahua’lam bi showwab

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Semangat Baru

Pelantikan pengurus periode 2017